
SUKABEKASI.com – Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) bergerak buat menggelar aksi protes terhadap pengundangan seorang profesor yang dikenal sebagai pendukung Israel dan pro-Zionis pada acara orientasi mahasiswa baru. Aksi protes ini dilakukan di depan gedung Rektorat UI sebagai bentuk ketidakpuasan dan penolakan atas kehadiran profesor tersebut, yang dipercayai mendukung aksi genosida di Palestina. Mahasiswa menuntut keterangan lebih jelas dari pihak rektorat mengenai alasan diundangnya profesor tersebut, yang dinilai tak selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian yang diusung oleh universitas.
Menurut sumber dari dalam kampus, kehadiran profesor tersebut dalam acara orientasi sebenarnya tidak disadari oleh sejumlah staf universitas. “Ini adalah kecelakaan, dan kami sedang berusaha untuk menanganinya dengan pas,” ujar salah satu pejabat universitas yang enggan disebut namanya. Meski begitu, tindakan ini statis menimbulkan riak protes dari mahasiswa yang menyuarakan solidaritas untuk Palestina. Banyak pihak di dalam kampus yang berharap bahwa kedepannya, pemilihan pembicara dalam acara-acara universitas dapat lebih selektif dalam mempertimbangkan track record dan pandangan politik individu yang diundang agar tidak mencederai perasaan civitas akademika dan menjaga nama baik institusi.
Kontroversi Kehadiran Profesor Pro-Zionis
Kemunculan profesor yang mempunyai pandangan pro-Zionis ini memang menjadi kontroversi yang cukup besar, mengingat sifat sensitivitas isu Timur Lagi, khususnya konflik Israel-Palestina. Peter Berkowitz, nama profesor tersebut, sebelumnya juga diundang untuk memberikan materi di berbagai loka, termasuk di Akademi Kepemimpinan NU, yang juga mendapat respons majemuk dari para peserta dan pengamat. Dukungan yang diberikan oleh Berkowitz terhadap aksi Israel dianggap mencederai perjuangan kemerdekaan Palestina dan berpotensi menumbuhkan sentimen negatif di kalangan masyarakat Indonesia yang mayoritas mendukung Palestina.
Pengundangan profesor tersebut memicu pertanyaan mengenai kebijakan universitas dalam pengundangan tokoh atau pembicara, serta bagaimana kampus dapat memastikan bahwa setiap individu yang hadir dalam acara-acara kampus dapat memberikan kontribusi positif dan tidak memprovokasi tindakan yang bisa menimbulkan konflik internal. “Kami memahami keresahan yang dirasakan oleh teman-teman mahasiswa dan kami akan melakukan evaluasi menyeluruh agar ke depannya kejadian serupa tidak terulang,” ucap salah satu dekan di fakultas tersebut. Rektor Universitas Indonesia diharapkan segera bertindak dengan memberikan pernyataan formal dan mungkin mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjernihkan situasi ini.
Dukungan Mahasiswa Terhadap Palestina
Aksi protes ini adalah satu dari sekian banyak wujud solidaritas mahasiswa terhadap isu-isu penting di taraf dunia. Mahasiswa UI, seperti halnya mahasiswa di berbagai belahan internasional, dikenal aktif dalam menyuarakan dukungan bagi Palestina. Bentuk dukungan ini tidak hanya dilakukan dalam wujud protes, tetapi juga berbagai aktivitas kampanye dan penggalangan bantuan yang dilakukan secara internal maupun eksternal kampus. Pencerahan terhadap isu kemanusiaan semacam ini memang menjadi porsi dari proses pendidikan kritis yang mau dibangun oleh universitas-universitas modern di Indonesia.
Dukungan kepada Palestina juga merupakan cerminan dari pandangan mayoritas masyarakat Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina dan menolak segala wujud penjajahan atau tindakan genosida. Keterlibatan mahasiswa dalam aksi protes ini dipandang sebagai langkah yang dapat mempengaruh kebijakan universitas supaya sejalan dengan aspirasi dan nilai-nilai yang diusung oleh civitas akademika. Kedepannya, diharapkan kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi seluruh pihak terkait agar lebih bijak dalam membuat keputusan, terutama yang berkaitan dengan isu-isu sensitif yang mempunyai implikasi luas.
Akhirnya, meskipun situasi ini menjadi ujian bagi interaksi antara mahasiswa dan pihak rektorat, namun dapat menjadi momentum buat meningkatkan dialog dan keterbukaan dalam menghadapi isu-isu kontroversial di masa depan. Kerjasama antara mahasiswa, dosen, dan pihak rektorat sangat penting pakai memastikan keputusan-keputusan kampus sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan dapat diterima oleh semua civitas akademika.




