
SUKABEKASI.com – Dalam sebuah perbincangan yang mendalam mengenai pendidikan di Kabupaten Bekasi, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Bekasi, Prawiro Sudirjo, mengungkapkan bahwa minat baca di kalangan siswa masih menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh para pendidik dan institusi pendidikan. Menurutnya, meskipun sejumlah program sudah dijalankan untuk menaikkan minat baca, hasil yang diperoleh belum sepenuhnya memuaskan. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana menarik minat siswa untuk benar-benar mencintai membaca, bukan cuma melakukan kegiatan membaca sekadar untuk memenuhi kewajiban akademis.
Membangun Minat Baca Sejak Dini
Prawiro menekankan pentingnya penanaman minat baca sejak dini. “Anak-anak semestinya diperkenalkan dengan berbagai jenis bacaan yang menarik perhatian mereka sejak taraf taman kanak-kanak,” ujarnya. Dengan membikin kegiatan membaca sebagai suatu norma yang menyenangkan, diharapkan siswa akan mengembangkan kecintaan terhadap kitab yang dapat mereka bawa hingga dewasa. Tak cuma bergantung pada buku teks, namun juga menyertakan bahan bacaan yang relevan dengan minat dan hobi mereka dapat menjadi cara efektif buat menaikkan minat. Prawiro juga menyarankan agar perpustakaan sekolah menjadi loka yang lebih menarik dengan menyediakan buku-buku yang majemuk dan nyaman buat dikunjungi.
Sinergi Antara Sekolah dan Orang Tua
Menurut Prawiro, sinergi antara sekolah dan manusia uzur juga memegang peranan krusial dalam menumbuhkan minat baca. “Kerja sama antara guru dan orang uzur harus dibangun demi mencapai tujuan ini,” kata Prawiro. Orang tua di rumah sebaiknya dilibatkan dalam kegiatan membaca bersama anak-anak mereka, sehingga anak merasakan bahwa membaca adalah aktivitas yang juga dihargai di rumah, bukan cuma di sekolah. Sekolah mampu menyediakan sesi konsultasi atau workshop bagi orang uzur untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya membaca dan cara menerapkannya di rumah. Dengan dukungan dari kedua belah pihak ini, diharapkan siswa memiliki lingkungan yang aman buat mengembangkan kebiasaan membaca mereka.
Lebih lanjut, Prawiro juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi dalam menaikkan minat baca di kalangan siswa. Banyak aplikasi dan platform digital saat ini yang menawarkan kitab dalam format elektronik. “Teknologi bisa menjadi alat yang efektif kalau digunakan dengan langkah yang pas,” tambahnya. Mengintegrasikan teknologi dalam kegiatan literasi di sekolah tidak cuma akan menarik minat siswa yang lebih suka menggunakan gadget, tetapi juga memberikan mereka akses ke berbagai sumber bacaan yang mungkin tak tersedia dalam wujud cetak. Namun, penggunaan teknologi ini harus statis diawasi agar tak mengganggu keseimbangan antara kegiatan membaca dan ketika layar yang sehat.
Sebagai penutup, Prawiro berharap agar semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, bagus itu guru, manusia uzur, maupun pemerintah, dapat bekerja sama buat menciptakan budaya membaca yang lebih baik di Kabupaten Bekasi. Dengan meningkatnya minat baca, diharapkan siswa akan lebih kritis, memiliki wawasan yang luas, dan siap menghadapi tantangan di masa depan. Sebagaimana yang dikatakan Prawiro, “Mengembangkan minat baca bukanlah tugas yang mudah, tetapi dengan kerja keras dan kolaborasi dari seluruh pihak, kita mampu mencapainya.” Mengubah tantangan menjadi peluang adalah kunci untuk menciptakan generasi yang giat membaca dan pembelajar sepanjang hayat.



