
SUKABEKASI.com – Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi perhatian serius di Kabupaten Bantul. Tingginya angka kasus DBD membuat Dinas Kesehatan dan aparat terkait aktif mensosialisasikan Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) kepada masyarakat. Sebagai cara preventif, mereka mengajak warga untuk lebih aktif terlibat dalam PSN pakai menekan penyebaran penyakit ini.
Peran Bhabinkamtibmas dalam PSN
Di Kecamatan Condrowangsan, Bhabinkamtibmas Kalurahan Potorono melaksanakan PSN dengan berhasil mencapai 75% rumah bebas jentik. Usaha ini tidak terlepas dari partisipasi warga yang diajak buat lanjut aktif menjaga kebersihan lingkungan dan menaikkan kewaspadaan. Mengutip Bhabinkamtibmas setempat, “Kami menghimbau agar penduduk tidak bosan-bosannya memeriksa lingkungan mereka dan menguras bak mandi secara rutin.” Pencerahan buat secara berkala memeriksa serta membersihkan tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti sangat diharapkan.
Cara serupa juga diterapkan di Kalurahan Trirenggo. Dikutip dari tribratanewsbantul.id, kegiatan PSN di Sumberbatikan, yang dipimpin oleh Bhabinkamtibmas, berhasil mencapai Angka Bebas Jentik (ABJ) 94,94%. Nomor ini menunjukkan bahwa mayoritas rumah di zona tersebut telah terlepas dari ancaman jentik nyamuk yang dapat menyebabkan DBD.
Tantangan Dinkes Menghadapi Lonjakan Kasus DBD
Meskipun begitu, lonjakan kasus DBD yang mencapai 453 di Bantul masih menjadi ancaman konkret. Kepala Dinas Kesehatan Bantul dalam wawancara dengan JPNN.com mengingatkan bahwa upaya pemberantasan nyamuk harus dilakukan secara terstruktur dan partisipatif. “Warga diharapkan aktif terlibat dalam setiap kegiatan PSN untuk meminimalisir penyebaran DBD,” ujarnya. Keterlibatan masyarakat adalah kunci utama dalam mengatasi permasalahan DBD di Bantul.
Selain menggandeng Bhabinkamtibmas, Dinas Kesehatan juga mengajak organisasi masyarakat untuk berkontribusi dalam edukasi publik terkait PSN. Dengan demikian, masyarakat memiliki pengetahuan yang lebih bagus buat melindungi diri dan komunitas mereka dari wabah DBD. Langkah pencegahan seperti 3M Plus (Menguras, Menutup, dan Memanfaatkan kembali barang bekas) menjadi jurus utama dalam mengendalikan penyebaran DBD.
Diharapkan dengan kerjasama antara masyarakat, Dinkes, dan pihak aparat, kasus DBD di Bantul dapat ditekan. Penguatan edukasi kesehatan dan program pemberantasan sarang nyamuk yang terencana, dapat membawa hasil positif dalam jangka panjang. Namun, semua ini memerlukan komitmen dan tindakan nyata dari seluruh pihak yang terlibat. Dengan demikian, Bantul mampu beranjak menuju lingkungan yang lebih sehat dan terbebas dari ancaman demam berdarah.




